Wajah bukan sekedar penada melainkan wajah adalah Kita. Bagi Emmanuel Levinas,wajah orang lain atau sejumlah orang adalah wajah Kita semua, yakni wajah manusia. Wajah kemanusiaan.
Dalam sajak "Nyanyian Angsa" menggambarkan perempuan pelacur bernama Maria Zaitun, setelah diusir semua orang, agamawan, pintu rumah tuhan, bahkan malaikat penjaga Firdaus pun mendengki, melepas lelah ditepi sungai. Tubuhnya lemas, penuh borok, bacin dan menjijikan, penyakit kelamin dan mematikanpun dideritanya. Jiwanya remuk diusir manusia dan dikutuk malaikat. Namun Ia yakin Tuhan tidak akan membuangnya, hanya manusia dan agama yang mengutuknya. Walaupun perempuan terhina, ia tetap lebih mulia dari malaikan surga. Karena ia adalah Manusia.
Akibat dari kebakhilan dan kesucian, Jutaan Maria Zaitun dari sajak WS. Rendra akan terus ada. Kebakhilan yang hidup hanya untuk dirinya sendiri, persetan penderitaan diluar dirinya. Kesucian yang menegakkan dirinya dengan menghina mengkotorkan yang tercampak dilumpur nasib. Selama jurang kesenjangan hidup menganga, nasib tragis terus menimpa Maria Zaitun.
Dalam sebuah hadist sahih, Nabi Muhammad mengisahkan seorang ahli ibadah yang mengabaikan burung peliharaannya kehausan, hingga burung itu mati kehabisan air. Sang ahli ibadah itupun masuk neraka paling kejam. Dan dalam hadist itu mengisahkan, seorang pelacur tua yang seumur hidupnya menjadi pelacur memberi minum seekor anjing kehausan, hingga dirinya sendiri tidak kebagian air minum lalu mati. Allah SWT mengganti air sang pelacur yang diminumkannya pada anjing itu dengan surga Firdaus, surganya para nabi dan awliya.
Apa sejatinya yang hendak disampaikan oleh Nabi Muhammad dari kisah itu ?
Banyak kisah-kisah lainnya yang dapat Kita tumui pada buku "Kitab Kelamin."
by Taufiq Wr. Hidayat
Seputar Warna Kehidupan
Serat Kiai Sutara
Monday, June 8, 2020
Wednesday, December 26, 2018
UNTUK SIAPA ANDA PUASA ?
KIAI SUTARA, dulu ketika muda adalah seorang pendekar.
Pada masa penjajahan Jepang, dia mampu mengatasi sepuluh orang pasukan samurai. Para samurai Jepang itu heran, katana yang tajam tak bisa melukai Kiai Sutara muda. itu dulu, sekarang Kiai Sutara sudah tua. Usianya 87 tahun. Tapi, badannya masih nampak kokoh dan menyedot roko kretek dalam-dalam.
Kiai Sutara yang beralamat tinggal diKabupaten Banyuwangi, merupakan Kiai sepuh yang dijuluki orang sebagai "Kitab Melaku" atau "Buku Berjalan" lantaran kelimatnya.
"Boleh jadi puasa akan membawa Kita ke surga. Boleh jadi puasa membawa Kita ke neraka." tutur Kiai Sutara malam itu dirumahnya yang diterangi lampu 5 watt.
"Kok bisa, Kiai?" sergah saya.
"Kok bisa kok bisa, endasmu!" semprot Kiai Sutara.
"Ampun Kiai"
Kiai Sutara menyedot kreteknya. Asap tebal keluar dari mulutnya.
"Apa kamu mengerti, puasa itu buat siapa?"
"Buat Allah, Kiai."
"Mbahmu!"
"Ampun Kiai."
"Dasar santri sontoloyo! Salat Kamu?"
"Salat Kiai. Tapi, jarang-jarang."
"Santri goblok! salat memang harus jarang-jarang. Habis sholat Isyak, kamu harus berhenti salat, nunggu Subuh, baru salat lagi. Dengkulmu ambles tah!"
"Ampun Kiai." ujar saya sambil nahan tawa.
"Sontoloyo!" Kiai Sutara melempar asbak beling ke hadapan saya.
"Ampun beribu ampun, Kiai. Sungguh saya tidak akan sanggup memakan asbak ini."
Kiai Sutara tertawa terbahak-bahak sampai terbatuk-batuk dan Saya diam.
"Kalau puasa cuman untuk Allah, lalu kenapa kamu membenci orang yang tidak puasa?"
"Ampun Kiai, Mereka tidak menghormati orang puasa."
"Santri goblok! Kalau puasa cuman buat Allah, kenapa kamu minta dihormati selain Allah?"
"Ampun, Kiai."
"Kayak dalang saja kamu. Kalau puasa cuman buat Allah. Apa kamu pikir Allah butuh sama puasamu itu? Kalau kamu puasa cuma buat Allah. Apa lantas Allah mau menerima puasamu? Allah gak patheken walaupun seluruh manusia didunia ini tidak puasa. Jadi jangan mentang-mentang puasa lalu kamu sok. Warung makan dan tempat maksiat kamu suruh tutup. Sebelum puasa kemana saja dengkulmu? Mau beribadah apa mau menggantikan Iblis laknatullah itu?!"
"Ampun Kiai"
"Puasa itu buat Allah, bukan buat dirimu sendiri, bukan buat kenyamananmu, keluarga, atau kelompokmu. Puasa itu buat Allah, bukan buat kesehatan, bukan buat statusmu, bukan buat nafsu bejatmu, bukan untuk basa-basi formalitas, bukan buat kesombongan. jika dibulan puasa dibuka pintu surga, artinya kamu harus berkomitmen untuk menciptakan ketentraman, mengentaskan derita manusia serta derita alam agar sejahtera, menata kehidupan dengan semangat yang tulus hanya buat Allah. Maka surga akan terasa nyata. Bukan khayalan. Dan jika dibulan puasa, Tuhan menutup pintu neraka, berarti kamu harus menutup nafsu yang tertanam didalam indera-inderamu. Jangan ngawur. Jangan kamu buka pintu neraka itu dengan puasamu yang ingin dihormati itu."
"Sandiko, Kiai."
Pada masa penjajahan Jepang, dia mampu mengatasi sepuluh orang pasukan samurai. Para samurai Jepang itu heran, katana yang tajam tak bisa melukai Kiai Sutara muda. itu dulu, sekarang Kiai Sutara sudah tua. Usianya 87 tahun. Tapi, badannya masih nampak kokoh dan menyedot roko kretek dalam-dalam.
Kiai Sutara yang beralamat tinggal diKabupaten Banyuwangi, merupakan Kiai sepuh yang dijuluki orang sebagai "Kitab Melaku" atau "Buku Berjalan" lantaran kelimatnya.
"Boleh jadi puasa akan membawa Kita ke surga. Boleh jadi puasa membawa Kita ke neraka." tutur Kiai Sutara malam itu dirumahnya yang diterangi lampu 5 watt.
"Kok bisa, Kiai?" sergah saya.
"Kok bisa kok bisa, endasmu!" semprot Kiai Sutara.
"Ampun Kiai"
Kiai Sutara menyedot kreteknya. Asap tebal keluar dari mulutnya.
"Apa kamu mengerti, puasa itu buat siapa?"
"Buat Allah, Kiai."
"Mbahmu!"
"Ampun Kiai."
"Dasar santri sontoloyo! Salat Kamu?"
"Salat Kiai. Tapi, jarang-jarang."
"Santri goblok! salat memang harus jarang-jarang. Habis sholat Isyak, kamu harus berhenti salat, nunggu Subuh, baru salat lagi. Dengkulmu ambles tah!"
"Ampun Kiai." ujar saya sambil nahan tawa.
"Sontoloyo!" Kiai Sutara melempar asbak beling ke hadapan saya.
"Ampun beribu ampun, Kiai. Sungguh saya tidak akan sanggup memakan asbak ini."
Kiai Sutara tertawa terbahak-bahak sampai terbatuk-batuk dan Saya diam.
"Kalau puasa cuman untuk Allah, lalu kenapa kamu membenci orang yang tidak puasa?"
"Ampun Kiai, Mereka tidak menghormati orang puasa."
"Santri goblok! Kalau puasa cuman buat Allah, kenapa kamu minta dihormati selain Allah?"
"Ampun, Kiai."
"Kayak dalang saja kamu. Kalau puasa cuman buat Allah. Apa kamu pikir Allah butuh sama puasamu itu? Kalau kamu puasa cuma buat Allah. Apa lantas Allah mau menerima puasamu? Allah gak patheken walaupun seluruh manusia didunia ini tidak puasa. Jadi jangan mentang-mentang puasa lalu kamu sok. Warung makan dan tempat maksiat kamu suruh tutup. Sebelum puasa kemana saja dengkulmu? Mau beribadah apa mau menggantikan Iblis laknatullah itu?!"
"Ampun Kiai"
"Puasa itu buat Allah, bukan buat dirimu sendiri, bukan buat kenyamananmu, keluarga, atau kelompokmu. Puasa itu buat Allah, bukan buat kesehatan, bukan buat statusmu, bukan buat nafsu bejatmu, bukan untuk basa-basi formalitas, bukan buat kesombongan. jika dibulan puasa dibuka pintu surga, artinya kamu harus berkomitmen untuk menciptakan ketentraman, mengentaskan derita manusia serta derita alam agar sejahtera, menata kehidupan dengan semangat yang tulus hanya buat Allah. Maka surga akan terasa nyata. Bukan khayalan. Dan jika dibulan puasa, Tuhan menutup pintu neraka, berarti kamu harus menutup nafsu yang tertanam didalam indera-inderamu. Jangan ngawur. Jangan kamu buka pintu neraka itu dengan puasamu yang ingin dihormati itu."
"Sandiko, Kiai."
Subscribe to:
Posts (Atom)

