KIAI SUTARA, dulu ketika muda adalah seorang pendekar.
Pada masa penjajahan Jepang, dia mampu mengatasi sepuluh orang pasukan samurai. Para samurai Jepang itu heran, katana yang tajam tak bisa melukai Kiai Sutara muda. itu dulu, sekarang Kiai Sutara sudah tua. Usianya 87 tahun. Tapi, badannya masih nampak kokoh dan menyedot roko kretek dalam-dalam.
Kiai Sutara yang beralamat tinggal diKabupaten Banyuwangi, merupakan Kiai sepuh yang dijuluki orang sebagai "Kitab Melaku" atau "Buku Berjalan" lantaran kelimatnya.
"Boleh jadi puasa akan membawa Kita ke surga. Boleh jadi puasa membawa Kita ke neraka." tutur Kiai Sutara malam itu dirumahnya yang diterangi lampu 5 watt.
"Kok bisa, Kiai?" sergah saya.
"Kok bisa kok bisa, endasmu!" semprot Kiai Sutara.
"Ampun Kiai"
Kiai Sutara menyedot kreteknya. Asap tebal keluar dari mulutnya.
"Apa kamu mengerti, puasa itu buat siapa?"
"Buat Allah, Kiai."
"Mbahmu!"
"Ampun Kiai."
"Dasar santri sontoloyo! Salat Kamu?"
"Salat Kiai. Tapi, jarang-jarang."
"Santri goblok! salat memang harus jarang-jarang. Habis sholat Isyak, kamu harus berhenti salat, nunggu Subuh, baru salat lagi. Dengkulmu ambles tah!"
"Ampun Kiai." ujar saya sambil nahan tawa.
"Sontoloyo!" Kiai Sutara melempar asbak beling ke hadapan saya.
"Ampun beribu ampun, Kiai. Sungguh saya tidak akan sanggup memakan asbak ini."
Kiai Sutara tertawa terbahak-bahak sampai terbatuk-batuk dan Saya diam.
"Kalau puasa cuman untuk Allah, lalu kenapa kamu membenci orang yang tidak puasa?"
"Ampun Kiai, Mereka tidak menghormati orang puasa."
"Santri goblok! Kalau puasa cuman buat Allah, kenapa kamu minta dihormati selain Allah?"
"Ampun, Kiai."
"Kayak dalang saja kamu. Kalau puasa cuman buat Allah. Apa kamu pikir Allah butuh sama puasamu itu? Kalau kamu puasa cuma buat Allah. Apa lantas Allah mau menerima puasamu? Allah gak patheken walaupun seluruh manusia didunia ini tidak puasa. Jadi jangan mentang-mentang puasa lalu kamu sok. Warung makan dan tempat maksiat kamu suruh tutup. Sebelum puasa kemana saja dengkulmu? Mau beribadah apa mau menggantikan Iblis laknatullah itu?!"
"Ampun Kiai"
"Puasa itu buat Allah, bukan buat dirimu sendiri, bukan buat kenyamananmu, keluarga, atau kelompokmu. Puasa itu buat Allah, bukan buat kesehatan, bukan buat statusmu, bukan buat nafsu bejatmu, bukan untuk basa-basi formalitas, bukan buat kesombongan. jika dibulan puasa dibuka pintu surga, artinya kamu harus berkomitmen untuk menciptakan ketentraman, mengentaskan derita manusia serta derita alam agar sejahtera, menata kehidupan dengan semangat yang tulus hanya buat Allah. Maka surga akan terasa nyata. Bukan khayalan. Dan jika dibulan puasa, Tuhan menutup pintu neraka, berarti kamu harus menutup nafsu yang tertanam didalam indera-inderamu. Jangan ngawur. Jangan kamu buka pintu neraka itu dengan puasamu yang ingin dihormati itu."
"Sandiko, Kiai."
